Aku Dan Emes: Sebuah Mini Album

Aku adalah orang yang lumayan berhati-hati dalam memilih tema dalam berkarya, terutama karya musik. Bukan hati-hati karena khawatir tidak banyak yang suka, tapi lebih kepada tema yang akan diambil. Aku selalu ingin menelurkan sebuah karya yang bagiku berarti dan sarat makna. Setelah “Dameria”, aku ingin membuat sebuah mini album yang ingin aku persembahkan dan dedikasikan untuk orang yang paling kucintai di dunia ini, yakni Ibuku. Aku ingin mendapat restu Tuhan lewat mini album ini. Restu Tuhan melalui kebahagiaan Ibuku. Tanpa ragu, aku memberi judul mini album perdanaku dengan kata “Emes”. Kata “Emes” sendiri sangatlah familiar bagi kami warga Jawa Timur, kata itu adalah bahasa slank yang berarti Ibu. Bahkan, aku punya mimpi nantinya aku dapat merilis mini albumku ini di depan Ibuku saja dengan mengadakan konser kecil-kecilan namun eksklusif.

Rencananya, dalam mini album yang keseluruhan isinya adalah lagu instrumental ini, aku akan menyertakan empat lagu yang jika dirangkai akan menceritakan sebuah romantisme antara ibu dan anak. Yakni kelahiran, kehidupan, perpisahan, dan kematian. Keempat rangkaian romantisme itu adalah sebuah siklus ideal yang dialami oleh sepasang ibu dan anak.

Judul dari empat lagu tersebut akan mempunyai arti yang sama, yaitu Ibu. Tapi dalam bahasa yang berbeda. Pertama adalah Madre, sebuah kata dari Bahasa Spanyol. Kedua adalah Umama yang merupakan Bahasa Zulu. Ketiga dari Bahasa Hawaii, yakni Makuahine. Terakhir aku menggunakan Bahasa Kroasia, Majka. Dalam mini album ini, tersebut kata yang berarti “ibu” sebanyak lima kali. Kami umat muslim percaya bahwa Allah suka dengan angka ganjil. Lagi, saya mencoba untuk meminta restu Tuhan.

Nantinya saat sudah rilis, “Emes” akan aku jual dengan harga seikhlasnya atau biasa disebut pay as you wish. Lalu seluruh hasil penjualan, bukan keuntungan saja, akan disumbangkan ke sebuah badan sosial atau semacamnya yang sekarang belum ditentukan detail tepatnya. Ini adalah upaya ketigaku untuk merayu Tuhan agar memberi restu.

Apakah kamu sadar berapa kali kata Allah dan/atau Tuhan yang aku tulis di artikel ini?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *