Aku Dan GAC: “I Am A Loser”

Pertemuanku dengan Mas Neding malam itu adalah sebuah awal mula semua keberingasan kreatifku muncul.

Yap, Mas Neding, dia aku anggap sebagai senior di belantika permusikan khususnya di Kota Malang. Dia seorang solois, salah satu personil band pentolan Malang Snickers and The Chicken Fighter (SATCF), dan juga salah satu finalis Go Ahead Challenge (GAC) 2017. Malam itu dia hanya bilang ke saya bahwa GAC tahun 2018 akan segera dibuka, lalu diikuti dengan cerita-ceritanya saat mengikuti kontestasi itu tahun lalu. And then, aku mendaftar.

GAC 2018, bertajuk Karya Gak Tahu Batas memberikan tantangan kepada seluruh kontestan untuk menggabungkan dua passion dari empat passion pilihan, yaitu musik, visual art, photography dan kuliner. Dengan ide yang gak tahu batas, aku mendaftarkan diri dengan menggabungkan musik dan visual art. Yakni, bermain saxophone dan melukis dengan kaki telanjang. Yap, kamu tidak salah baca. Dan, aku lolos ke tahap final dengan ide itu, ide yang belum aku coba sekalipun sebelumnya. Sampai sebelum tahap eksekusi saat finalpun juga belum kucoba.

Singkat cerita, kami para finalis mendapatkan mentoring selama kurang lebih empat hari, dua hari pembuatan karya, lalu satu hari terakhir untuk Artwarding Night. Pada bagian musik, aku dimentori oleh orang yang lumayan gila menurutku, dia adalah Jason Ranti. Untuk visual art aku didampingi oleh Kendra. Dua orang yang memberikan perspektif berbeda kepadaku, membuat pikiranku semakin carut marut karena keliaran mereka. Harus kuakui, atmosfer yang tercipta pada saat Creative Academy sama sekali tidak kental dengan unsur kompetisi. Bahkan kami para finalis saling bantu mempersiapkan karya kami untuk Artwarding Night. GAC adalah kompetisi yang kolaboratif. Banyak finalis yang beranggapan bahwa sudah sampai tahap final di Jakarta adalah kemenangan, tapi bagiku tidak. Belum.

Sampai akhirnya pada Artwarding Night, karya kami diapresiasi dengan segala bentuk perlakuan yang sangat menyenangkan dan mengesankan. Malam itu bisa membuatku berkata dalam hati, “now is my best life”, walau aku memilih pergi dari area display sementara finalis yang lain menunggui karya masing-masing untuk menyampaikannya kepada pengunjung. Selain aku tidak begitu suka keramaian, aku berpikir biar karyaku saja yang berbicara.

Finally, pengumuman juara. Juara pertama, juara kedua, juara ketiga, kuara keempat, lalu sampai juara favoirt. Namaku tidak ada dalam LED screen dan tidak disebutkan oleh MC ketika pengumuman itu. Aku bangga dengan mereka, teman-teman baruku yang sangat luar biasa dan menginspirasi. Tapi, rasa kecewaku, jujur, lebih besar dari rasa banggaku itu. Sampai-sampai, aku bergumam “I’m a loser” berkali-kali ketika itu. Sungguh.

Well, aku punya personal treatment tersendiri pada setiap persoalan yang kuhadapi. Kalimat “I’m a loser” adalah sebuah peringatan dariku untuk diriku sendiri. Peringatan bahwa aku tidak boleh kalah untuk kedua kali. Kalimat itu masih terngiang saat perjalanan  kembali ke Kota Malang. Oke, akan aku beri tahu apa yang langsung aku lakukan sesampainya aku di Malang.

Sebulan kemudian, aku sudah berada di Kalimantan Timur, melakukan ibadah tour untuk mempromosikan mini album yang kurilis beberapa hari sebelum keberangkatanku ke final GAC 2018. Tour yang dilaksanakan di Bontang dan Balikpapan itu adalah tour bersama kami yang seluruhnya adalah finalis GAC 2018, dan ketiganya adalah juara, mereka adalah Biru Tamaela dan Rinto Muslim dari Balikpapan, dan Faiz Aditya dari Jakarta. Tiga minggu kemudian, aku melanjutkan tour di dua kota di Jawa Timur, Kediri dan Tulungagung. Saat aku menulis artikel ini pun, aku sedang mempersiapkan tour di Surabaya dan Yogyakarta, closing tour di Malang, serta penggarapan tiga video klip sekaligus. Sebelum berangkat ke Balikpapan, aku sudah mengumpulkan tim untuk pengerjaan album penuhku yang rencananya akan dirilis awal tahun depan. Terkesan ambisius, tapi ini adalah bouncing back!

Sebagian juara mendapatkan kesempatan untuk melakukan perjalanan kreatif ke London dan sebagian lagi ke Jepang. Aku, bukan juara, tapi juga mendapatkan kesempatan melakukan perjalanan kreatif, yakni menyelami diriku sendiri.

I don’t have particular skills like them, but I have extreme craziness that they don’t have. Let’s see.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *