AKU DAN WISUDA: GEJOLAK FRESH GRADUATE

Keinginanku untuk menulis muncul lagi.  Untukmu yang menginspirasi, terimakasihku.

 

Masih terukir manis di beranda kenanganku, sebuah rangkaian angka yang bagiku lebih berarti dari sekedar tanggal jadian, 05092015. 5 September 2015 adalah hari dimana aku resmi dilantik sebagai pengangguran. Wisuda adalah momen yang paling kutunggu dalam hidupku sebagai mahasiswa, walaupun juga menjadi momen yang paling membuatku stres kepalang bukan. Bagaimana tidak, setelah tali kiwir-kiwir di atas topi togaku dipindah arahnya oleh Rektor, aku tidak akan menjadi mahasiswa lagi. Terus, what should I do after this? Aku masih sangat mencintai masa-masaku sebagai mahasiswa dimana aku bisa hangout 24 jam sehari 7 hari seminggu dengan uang saku yang bisa didapat dengan hanya ketik SMS “Pak/Buk, uangku habis. Transfer dong”. Jujur saja, masa-masa menjadi mahasiswa adalah masa paling enteng untuk dijalani, dalam perspektifku sekarang.

Menjadi seorang fresh graduate adalah masa paling menyumpekkan dalam hidupku kala itu. Dengan pola pikirku yang terpengaruh oleh golongan-golongan anti kemapanan membuatku berpikir bahwa aku tidak harus kerja mapan untuk mengarungi universitas kehidupan dan bikin senyum simpul di wajah orang tua tanda bangga. Entah hati atau otakku bilang begini (aku selalu bingung sama hal ini), “kita akan bekerja, lalu mendapat gaji. Gaji ini akan kita belanjakan untuk membeli asupan energi untuk bersiap bekerja lagi. Begitu seterusnya bagai lingkaran setan”. Aku yakin bahwa ada more value selain bekerja, makan, dan bekerja lagi. Tapi ini bukan berarti aku menilai kalian yang bekerja tetap, rutin dan mapan adalah orang-orang yang salah dalam mengambil langkah. Setiap orang punya cara sendiri dalam menikmati hidup, bukan? Karena kebenaran itu relatif.

Fase ini menjadi fase dalam mencari jati diri. Aku belum punya pilihan sebuah langkah pasti waktu itu. Hanya memegang sebuah mimpi sekedar mimpi untuk bisa kuliah S2 di luar negeri atau menjadi travelling worker yang hidupnya berpindah dari satu negara ke negara lain. Aku memang belum seratus persen meyakini bahwa itu adalah mimpi yang memang aku inginkan dalam hidup. Tapi aku tetap mencoba untuk memperjuangkan mimpi sekedar mimpi itu, dan langkah awalku adalah memilih hijrah dari Kota Malang yang sangat kucintai, ke kota yang katanya istimewa, Yogyakarta.

 

Sebuah pertanyaan yang selalu melayang-layang dalam langit benakku (ketika itu) adalah:

“What do you want from life?”

Adv

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *