AKU DAN JOGJA: PERSPEKTIF BARU DAN SAXOPHONE

Ide untuk pindah ke kota ini muncul secara tidak terduga. Awalnya adalah usul dari salah satu sahabat saya, Dionisius. Kedua, adalah teman bule saya dari Amerika yang berkata suatu saat akan kuliah di Jogja karena menurutnya Jogja adalah kota terbaik di dunia. Saya masih butuh waktu untuk memikirkan hal itu, mungkin sekitar satu hari. Ya! Saya menemukan sebuah kesimpulan. Jogja adalah “all I need”. Saya harus menantang diri saya sendiri untuk masuk ke tempat yang benar-benar baru dalam hidup saya, yaitu tinggal di kota yang belum pernah saya tinggali.

Harus kuakui, Jogja mengamini keinginanku untuk lari dari kenyataan. Lari dari pertanyaan-pertanyaan yang selalu terlontarkan dari mulut orang lain kepada kita pasca wisuda. Nglamar kerja dimana lah, mau lanjut S2 apa enggak lah, mau pulang ke kampung atau menetap lah, telek pitik lah, blobog singo lah, sungut nogo lah. Embuh! Engkok gimeng (saya pusing. Bahasa Madura)!

Dengan modus kursus Bahasa Inggris dan mencoba tempat baru, akhirnya saya mendapat restu dari orang tua untuk pindah ke Kota Gudeg. Saya membawa serta si Brenda, vespa kesayangan saya. Barangkali selain untuk transportasi, Brenda bisa menjadi kendaraan untuk memudahkan saya masuk ke dalam komunitas yang ada di Jogja. Kurang lebih lima hari setelah wisuda saya capcuske Jogja. Tidak perlu menunggu lama.

Dua sampai tiga minggu hari-hariku di Jogja kulalui dalam kesepian. Kemana-mana sendiri, ngopi sendiri, makan sendiri, sampai cari utangan duwit adalah hal tersulit waktu itu. Walau ada beberapa teman yang bisa disambangi, aku memilih untuk mencari teman baru. Di penghujung rasa putus asaku dalam mencari teman baru, salah satu aplikasi android berlogo tawon datang sebagai oase di padang pasir, BeeTalk. Aku bergabung dalam salah satu grup chat untuk kongkow yang bernama DIY (Dolan In Yogya). Disini, aku bertemu berbagai macam karakter manusia. Mulai mahasiswa biasa (semesternya), mahasiswa luar biasa (semesternya juga), abang-abang perantau pencari nafkah, mbak-mbak pencari nafkah tapi ngarepnya dapet jodoh, sampai dedek-dedek emesh. Pertemanan yang mesra dan berskala nasional ini muncul karena aplikasi dating. Sampai-sampai aku meninggalkan kosku yang sudah kubayar tiga bulan dan pindah ke kontrakan temanku dari grup BeeTalk yang berasal dari Fakfak, Papua Barat.

Teman-teman baruku ini bikin aku banyak melihat dari berbagai macam perspektif. Aku tertampar oleh mereka yang kehidupannya jauh lebih jahat daripada aku yang sudah merasa paling ruwet karena aku adalah seorang fresh graduate. Seketika aku berpikir bahwa hidupku masih receh, ecek-eceksak kuku ireng. Mereka tidak pernah menyemangatiku secara langsung memang, tapi hanya dengan berbagi cerita, mereka menyemangatiku dengan sangat luar biasa. Aku tidak pantas dan layak untuk mengeluh atas kehidupanku waktu itu.

Suatu waktu, aku mengevaluasi mimpiku, aku tanya diriku lagi, apakah ke luar negeri adalah hal yang benar-benar aku inginkan dalam hidup. Melihat buku catatanku warna hitam yang selalu kubawa kemana-mana, sudah banyak tertulis detail step by step dalam meraih mimpiku. Tapi setelah berkontemplasi, aku menulis sebuah kalimat dengan huruf kapital dalam buku catatanku ini,”KE LUAR NEGERI ADALAH MASUK AKAL. BODOH!”. Itu adalah perwujudan “macak tegar” dari bentuk asli antara kehilangan mimpi, tidak yakin sama mimpiku sendiri dan butuh hal yang lebih mustahil lagi untuk bermimpi. Ketika itu, aku membuka diri bagi setiap opsi, entah itu pulang ke kampung dan bekerja disana, bekerja normal delapan jam sehari di Jogja atau kota lain, ikut bapakku bekerja di proyek kontruksi, seolah orientasiku jadi lebih simpel seketika. Aku berserah diri pada keadaan bagai upil yang entah dimana akan disarangkan oleh empunya. Aku juga memutuskan kembali ke Malang jika kursusku sudah selesai. Aku melihat potensi yang luar biasa di Malang. Bodohnya, aku baru melihat itu ketika aku di Jogja. Yaah, wajar juga, kita akan merasa sesuatu sangat berharga ketika kita sudah jauh darinya.

Masa-masa akhirku di Jogja, Tuhan membuat skenario, teman-teman grup mengadakan futsal bareng di salah satu tempat futsal sekaligus café yang ada di Jogja. Saya hanya bermain beberapa menit, Karena stamina ini sudah tak sanggup untuk dibuat berlari kesana kemari dalam waktu yang lama mengejar sebuah bola yang dikeroyok sama 10 orang. Aku istirahat dan duduk di kursi cafenya. Ada live music waktu itu, aku ikut menikmati penampilan band akustik bersama pengunjung café yang riuh mengapresiasi band penampil yang ada di panggung.

Entah apa yang terjadi, aku berimaji dan melihat diriku yang gak bisa musik sama sekali ini bermain saxophone dengan indahnya di panggung yang sedang kupandangi (walau keadaan nyatanya gak ada saxophonist-nya sama sekali). Sekaligus riuh penontonnya mengiringi alunan tiupan saxophone soloku. Lalu aku tersadar dan mbatin,”halah, opo se. Ngipi. Pengen disoraki cewek-cewek ta?”. Aku membuang imajinasi liar itu, menganggap itu hanya sebuah khayalan sesaat saja. Tapi, walau hanya dalam imaji, momen itu adalah pertemuanku dengan saxophone yang berimplikasi banyak dalam hidupku.

Aku di Jogja sekitar tanggal 11 September 2015 sampai 11 Januari 2016. Tepat empat bulan.

Jogja Istimewa, juga Kanewa.

Terimakasih, Jog.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *