AKU DAN SAXOPHONE: SEBUAH JAWABAN ATAS PERTANYAAN HIDUP

Pertemuanku dengan saxophone (selengkapnya ada di tulisanku sebelumnya) kala itu di Jogja memang hilang begitu saja. Sirna layaknya bau kentut yang hanya menggebu sesaat setelah dihembuskan oleh lubang jahanam nan nakal pemiliknya. Seolah itu memang sebuah khayalan iseng belaka. Istilahnya, mak wuss bablas angine.

Tapi Tuhan kembali membuat skenario, itu semua terjadi ketika aku tergabung dalam sebuah program pertukaran pelajar yang diprakarsai oleh American Councils dan Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA) Universitas Negeri Malang, yaitu Critical Language Scolarship (CLS) 2016. Dalam program yang dimulai pertengahan bulan Juni sampai pertengahan bulan Agustus ini aku didapuk menjadi Asisten Koordinator Kelas Ekskursi. Menjadi salah satu elemen yang berfokus untuk memperkenalkan bahasa dan budaya Indonesia kepada mahasiswa-mahasiswi Amerika yang datang ke Malang.

Di program itu, banyak sekali mahasiswa fakultas sastra yang bergabung, sedangkan aku sendiri adalah mantan mahasiswa fakultas ekonomi. Intensitas interaksi dengan mereka yang luar biasa besar membuatku banyak terlibat oleh obrolan-obrolan santai yang mengandung hal-hal berbau sastra dan seni, salah satunya adalah musik. Berawal dari semua itu, seolah saxophone kembali menyapaku, lengkap dengan senyum manis seolah mengajakku untuk mengenalnya lebih jauh. Pikiran dan hatiku terusik. Sampai pada akhirnya aku menelusuri apa itu saxophone, apa saja jenisnya, bagaimana cara mainnya, siapa saja pemainnya, berapa harganya, dan yang membuatku gerah adalah bagaimana cara mendapatkan uang untuk membelinya. Bukan alat musik yang gampang dijangkau memang, untuk kelas student (kelas paling murah) dengan kondisi baru, saxophone dilabeli harga kisaran 5-6 juta. Aku mentok di harga beli itu. Rasanya mustahil seperti bermimpi punya kekasih Gita Gutawa. Sehingga aku belum membuat keputusan apapun untuk aksiku terhadap salah satu alat musik tiup yang mengusikku ini.

Setiap bertemu orang di CLS yang kuanggap mengerti musik, aku selalu bertanya apakah masih mungkin di usiaku yang menginjak 23 tahun masih ideal untuk belajar musik. Ditambah lagi tantangan hidup yang kian kompleks sebagai seseorang yang tidak bertitel mahasiswa lagi. Hampir semua yang kutanyai menjawab bahwa tidak ada yang mustahil. Asal niat, anything is possible. Sebuah klimaks terjadi ketika aku bertanya kepada seorang sahabatku di CLS yang sudah sangat sering mendengar ceritaku tentang saxophone, dia adalah Ardi Fajar atau biasa dipanggil Jazz. Dia juga sama sekali tidak pernah bermain saxophone, sama sepertiku. Tapi Jazz kuanggap punya kualitas bermusik bak seorang composer. Dengan penuh serius dan sedikit nyentak aku bertanya, “jika di usiaku ini aku masih bisa belajar musik, lalu aku bisa membeli saxophone entah bagaimana caraku nanti, apakah kamu mau mengajariku musik?” Tanpa jeda Jazz menjawab pertanyaan emosionalku itu, “Ya belioTakajari.” I was a little fire in a single matches, and his answer was gasoline.

Aku memutar otak. Mencari solusi bagaimana caraku bisa memperoleh uang sebanyak itu untuk membeli saxophone. Selain aku tidak pandai menyimpan uang, menabung akan memakan waktu yang sangat lama–yang mana umurku tak bisa kusulap menjadi lebih muda setiap harinya. Apalagi penghasilanku sebegai freelancer pas-pasan. Membeli alat musik secara kredit juga mengharuskan aku punya dokumen ini itu yang mustahil buat kudapati. Aku menemukan opsi yang yang realistis namun mengerikan, yaitu melakukan pinjaman ke lembaga keuangan. Aku mempelajari skema, bunga, dan persyaratan macam-macam jenis pinjaman. Tuhan memberiku jawaban, sebuah bank yang bisa memberikan modal usaha bagi nasabah yang ingin mencari modal untuk UMKM dengan bunga yang sangat kecil, 0,4%. Aku menyimpan jawaban Tuhan ini.

Seusai program CLS serta pencarian informasi tentang dan bagaimana cara membeli saxophone, aku pulang kampung. Sebagai anak yang lumayan berbakti, aku mencoba berkonsultasi sekaligus meminta izin kedua orang tuaku atas mimpi mustahil ini. Aku duduk dihadapan bapak dan ibukku, disaksikan sebuah meja persegi panjang yang membuat jarak antara kami bertiga.

“Bapak ibuk, anakmu ini berniat mau pinjam uang ke bank.”

Bapak merespon, “ha? Pinjam uang? Untuk apa?”

“Aku ingin beli saxophone”

Ibukku hanya diam, bapakku yang merasa kaget sontak menjawab dengan nada sedikit tinggi, “kamu itu tidak bisa bermain musik. Sekarang mau beli saxophone. Untuk apa?”

“Sekarang.. aku memang tidak bisa. Tapi nanti, aku akan bisa bermain saxophone.”

Ibukku tetap diam, mungkin tanda sudah merasa terwakili oleh bapakku. “Kalau kamu sudah bisa bermain saxophone, kamu mau apa?”

“Aku jadi saxophonist”

Diteruskan dengan pembahasan yang panjang tentang saxophonist seperti apa yang kuinginkan, rencana-rencana yang sudah kucanangkan, dan kemantapan hatiku dalam memilih jalan hidup yang seperti ini. Singkat kata, bapakku–yang tentu saja mewakili ibukku juga–menyetujui mimpi mustahilku. Beliaulah yang membantuku untuk memproses semua keperluanku dalam melakukan pinjaman. Malah, bapakkulah yang menghapus kegundahanku ketika aku khawatir akan kesulitan dalam mebayar cicilan per bulannya nanti. Atas kesepakatan kami, nama yang dijaminkan adalah namaku sendiri, bukan diwakili orang tuaku. Kami juga sepakat bahwa sekarang akulah yang bertanggung jawab sepenuhnya atas diriku sendiri.

Kita dan orang tua kita terpisah oleh jurang perspektif. Tugas kita adalah memperkecil jurang itu. Karena pada dasarnya, orang tua selalu ingin melihat anaknya bahagia. Selalu begitu.

 

Advertisements

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *