AKU DAN SAXOPHONE 2: MAMA ANA MENYAMBUTKU

Dalam proses pencarian dana itu (bisa ditengok di tulisanku sebelumnya), aku mencari tempat dimana aku harus membeli saxophone. Pilihanku jatuh kepada Rumah Tiup Tina, Jogja, kota yang selalu mendapat tempat dihatiku. Via Whatsapp, aku berkomunikasi dengan pemilik rumah tiup itu, yakni Mas Risma. Aku yang masih buta tentang saxophone, banyak bertanya tentang A-Z kepadanya. Entah mengapa, aku memilih saxophone tenor sebagai labuhan hatiku. Jenis saxo yang jarang sekali dipilih, tidak sepopuler alto. Mas Risma yang sangat sabar dalam meladeni setiap kekepoanku telah banyak memberiku pencerahan.

Tanggal 5 September 2016, tepat setahun dari tanggal wisudaku, segala proses pencairan dana pinjaman sudah selesai. Dengan sejumlah uang dalam genggaman, pukul 12 malam di hari yang sama aku bergegas menuju Jogja. Sebelumnya, aku juga sudah membuat janji ke Mas Risma kalau aku akan kesana. Kebetulan waktu itu di rumah tiup sudah ready sebuah saxophone tenor. Padahal di tempat Mas Risma tidak selalu ada saxo tenor yang ready, biasanya harus pesan dulu. Ya, Tuhan punya rencana. Setibanya disana sekitar jam 9-10 pagi, aku disambut sekedarnya, tidak begitu menyenangkan bahkan. Bagai menyuguhkan sebuah makanan pembuka, Mas Risma serta merta memberiku sebuah mouthpiece saxophone alto yang sudah dipasangi reed dan memintaku untuk meniupnya sampai aku dapat mengeluarkan nada yang baik dan benar. Really? Aku masih bingung dengan apa yang terjadi dan berakhir pada kesimpulan bahwa ini adalah sebuah tantangan. Walau seharusnya aku berpikir seperti itu dari awal. Aku mencoba sekuat tenaga untuk meniupnya. Ternyata, ini tidak mudah. Mas Risma yang punya gaya bicara menggebu-nggebu menuntunku pelan-pelan. Mencoba, mencoba dan mencoba, akhirnya aku bisa meniup mouthpiece itu, walau tidak sempurna. Checkpoint! Lalu Mas Risma sedikit memberikan penjelasan tentang saxophone alto sembari memasang mouthpiece tadi ke neck yang sudah tepasang ke body. “Sekarang tiup saxophone ini sampai kamu bisa mengeluarkan nada do re mi fa so la si do. Baru nanti aku akan keluarkan saxophone tenornya.” kata Mas Risma kepadaku. Seketika aku menarik nafas lewat hidung dengan sangat pelan dan membuangnya lewat mulut dengan sangat cepat. Fyuh! Akupun mbatin, “aku iso aku iso aku iso.” Ini amat sangat sulit daripada hanya meniup moutpiece. Dengan ketaletan Mas Risma dalam menuntunku dan puluhan kali kegagalanku, aku berhasil mengeluarkan bunyi do re mi fa so la si do dari saxophone alto itu. Dalam fase ini, aku merasakan sensasi sedikit geringgingen di bibirku. Aku belum pernah berciuman dengan benda keras memang. Kalau benda yang agak lunak? Jangan ditanya lah ya. Hehe..

Mas Risma memberiku jeda dan beliau masuk ke dalam ruangan. Aku masih merasa heran dengan apa yang terjadi barusan. Selain shock dengan perlakuan Mas Risma terhadapku, ada sebuah tanya yang masih berkeliaran di benakku, “apakah saat ini aku benar-benar berada di Rumah Tiup, tempatnya saxophone? Atau sekarang aku sedang bermimpi?”. Diam-diam aku mencubit pipiku, layaknya adegan-adegan dalam film ketika aktor atau aktris mencoba meyakinkan dirinya tidak berada dalam sebuah mimpi. Dan, iya, aku tidak berada dalam mimpi karena aku merasakan sakit di pipiku.

Tak lama berselang, Mas Risma keluar dengan membawa sebuah box besar, meletakkannya di lantai, lalu membukanya. Seketika aku menahan air mata dari lensa rekam kehidupanku karena aku baru saja melihat saxophone tenor idamanku dengan mata kepalaku sendiri untuk pertama kalinya. Aku mengelus saxophone itu dengan penuh keheranan seraya meyakinkan diriku bahwa aku tidak sedang bermimpi. Lalu aku menceritakan semuanya kepada Mas Risma tentang alasan dan perjalananku sehingga aku ingin membeli saxophone. Mas Risma mengangguk dan berkata kepadaku, “Oke. Endro coba saxophone ini. Latihan disini. Harus sampai bisa bunyikan nadanya. Kalau tidak bisa, Endro tidak boleh membawa saxophone ini pulang”. Saya hanya mengangguk berkali-kali dan bilang, “oke, Mas”.

“Aku harus bawa saxophone ini pulang”, kataku dalam hati sembari terus mencoba saxophone ini. Mencoba, mencoba dan mencoba sampai aku hampir tidak bisa merasakan bibirku sendiri. Leher dan punggungku yang semakin lama semakin pegal karena menahan beban seberat enam kilogram ini yang hanya digantungkan di leher. Perutku yang semakin tidak karuan rasanya karena aku belum tahu bagaimana melakukan pernafasan melalui diafragma. Serta jari-jemari yang entah mengapa tak lagi sinkron dengan perintah yang kukirim lewat otakku. Aku benar-benar being fucked up saat itu. Tidak terbesit sedikitpun bagiku untuk mundur dan menyerah, karena aku memilih bertahan dan berjuang sampai aku terbakar habis. Sekitar jam 16.00, Mas Risma berkata, “cukup. Endro bisa bawa pulang saxophone itu. Tapi dengan satu catatan, saya tidak mau mendengar kalau saxophone itu terbaikan dan tidak dipakai lagi. Saya akan sangat kecewa jika itu terjadi.”. Aku meyakinkan Mas Risma bahwa itu tak akan mungkin terjadi mengingat ini adalah pilihan hidupku. Aku berjanji ke Mas Risma bahwa aku akan kembali ke Rumah Tiup dengan kemampuan yang lebih baik.

Dalam perjalananku pulang via kereta, aku tidak bisa berhenti tersenyum dan kadang geleng-geleng karena masih saja tidak percaya apa yang sudah terjadi. Pulang membawa box besar berisi saxophone tenor itu rasanya seperti membawa berton-ton emas batangan yang bebas mau kuapakan. Seperti orang-orang yang memberi nama pada benda-benda kesayangannya, aku pun mulai mencari-cari nama yang cocok untuk saxophoneku. Aku melihat seisi kereta, berharap akan ada yang menginspirasiku. Mataku menangkap sesosok ibu-ibu yang duduk sambil menatap jendela menikmati pemandangan di luar kereta. Aku jadi teringat pada Mama Ana.

Mama Ana adalah sorang ibu penjual tahu petis di Kertosono langgananku waktu SMP dulu. Ibu-ibu ter-rebel yang pernah kutemui. Besar di jalanan,  membuat beliau punya perspektif yang sangat luas tentang hidup. Yang selalu saya ingat, saat menggoreng jualannya dan menikmati rokoknya, beliau selalu curhat kepada saya dan menyertakan moral value-nya. Sebuah wejangan hidup. Gayanya yang seperti preman membuatku takjub, karena bagiku itu adalah sebuah ironi yang sangat mempesona. Seorang ibu bijak, tapi penampilan dan gaya bicaranya seperti preman.

Dan ya, aku menyematkan nama dan semangat Mama Ana pada saxophoneku.

Jalan setapak terlalu penuh sesak, semak dan jurang terjal kiranya akan menjadi rute tercepat menuju puncak. 

Sebuah kutipan dari penulis favorit saya, Paul Arden, “If you always make the right decision, the safe decision, the one that most people make, then you will be the same as everyone else. It is that simple”

Terimakasih sedalam samudera untuk Mas Risma.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *