AKU DAN MAMA ANA: SETAHUN PERCUMBUANKU DENGANNYA

AKU DAN MAMA ANA: SETAHUN PERCUMBUANKU DENGANNYA, endrotrilaksono.com

Pada 6 September 2017, genap setahun sudah aku memiliki Mama Ana, saxophone kesayanganku. Suka duka telah kami lalui dengan ikhlas hati. Baru kali ini aku merasakan attachment yang begitu kuat dengan sebuah benda. Rasanya seperti tidak butuh kekasih lagi untuk mengarungi keseharian. Rasanya seperti punya tandem yang siap sedia setiap saat dibutuhkan. Aku merasakan bahwa jiwa Mama Ana benar-benar hidup dalam kehidupanku. Lebay sih, tapi itu yang aku rasakan.

Belajarku kumulai dai kamar kontrakan dan dibimbing oleh Mbah Google dan Mbak Youtube. Susah banget ketika aku yang suka tanya ini ga punya teman konsultasi. Mau tanya ini itu ga ada tempatnya. Sempat tersesat dan menganggap penyebutan nada di saxophone sama seperti alat musik pada umumnya, kayak piano dan gitar. Padahal penyebutan nada di saxophone tenor berbeda satu nada diatas alat musik biasa. Contoh: jika di piano adalah C, maka di saxophone tenor adalah D. Itu tergoblok memang.

Pada waktu itu, aku merasa harus punya guru deh sepertinya. Supaya tidak semakin tersesat dan terombang-ambing layaknya anu tanpa bra. Mobat-mabit. Berpikir juga untuk kursus, tapi aku belum bisa bayar biayanya karena harus bayar cicilan saxophone juga. Akhirnya aku menghubungi temanku dari jurusan Pendidikan Seni Tari dan Musik (PSTM) di kampusku, Rani namanya. Barangkali disana ada dosen yang khusus mengajar alat musik tiup dan mau menjadi guruku secara cuma-cuma. Lalu Rani memberiku nomor Whatsapp Pak Deny Mahendra, seorang guru musik spesialis tiup. Tak lama, aku menemui beliau untuk menyampaikan itikad baik untuk mengajukan diri menjadi muridnya. Dan beliau menerimaku dengan segala kekuranganku. Kekurangan pengetahuan dan biaya. Tentu saja, beliau sama sekali tidak memungut biaya sepeserpun untuk mengajariku saxophone. Pak Deny adalah sebuah pencerahan atas segala gelap yang kurasakan saat mempelajari musik dan saxophone. Selain itu, beliau adalah pintu gerbang utamaku dalam memasuki dunia musik. Beliau mengajakku bergabung dengan bandnya, RGBSKA.

Lagi, dengan segala kekuranganku, RGBSKA menerimaku dengan tiupan seadanya. Bagiku, belum layak sebenarnya kesempatan ini diberikan kepadaku. Tapi aku akan jadi hamba yang tidak bersyukur jika aku menolak kesempatan yang diberikan oleh Tuhan. 12 Maret 2017 adalah panggung pertamaku. Sebuah acara yang digelar di Brawijaya Edupark (eks Senaputra) itu bernama Skame Forever, acara tahunan yang diprakarsai oleh Malang Ska Club. Aku masih sangat ingat, waktu kami giliran manggung, hujan lebat, para penonton mlipir ke tempat yang teduh dan tidak ada yang di depan panggung. Aku masih bisa membayangkan apa yang kutangkap dengan mataku saat itu, kombinasi hujan lebat dan silau karena lampu panggung. Sampai tanggal 6 September 2017, aku sudah delapan kali manggung bareng RGBSKA.

Sebagai newbie, tentu saja pengalaman manggung menjadi pembakar semangatku untuk terus melampaui batas. Walau yaaaah, kemampuanku masih seadanya. Belum bisa disebut niup saxophone beneran, bahkan tiupanku masih kayak tiupan ke mata karena kelilipan. Dengan semangat yang menggelora, aku merencanakan sebuah rangkaian project saxophone jalanan. Dalam project itu, ada lima pertunjukan yang kurencanakan. Semua dilaksanakan di jalanan Kota Malang.

Dalam perjalananku mendalami musik, saxophone dan mematangkan project, aku menemukan sebuah kompetisi yang bisa membantuku dalam meraih mimpiku menjadi saxophonist. Kompetisi itu adalah Toyota Berani Coba. Dalam kompetisi itu, semua peserta yang berasal dari seluruh Indonesia berlomba untuk mewujudkan mimpinya. Mimpinya boleh jadi apapun, mulai dari barista, sutradara, fotografer, koki, pemain musik dan masih banyak lagi. Dan aku tentu saja mendaftarkan diri sebagai peserta yang berani coba menjadi saxophonist. Dari 4405 pendaftar, diseleksi menjadi 100 peserta. Dari 100 peserta di saring lagi menjadi 50 peserta, lalu dikerucutkan menjadi 10 peserta dan berhak mengikuti audisi langsung di Jakarta. Dalam live audition yang dilaksanakan pada bulan Agustus 2017 itu, kami diberi kesempatan untuk mempresentasikan rencana kami ke depan dan melakukan demo sesuai bidang kami masing-masing. Pada penghujung audisi, diumumkan tiga pemenang Toyota Berani Coba. Alhamdulillah, aku menjadi salah satu dari tiga juara tersebut. Aku harus akui, sampai saat menulis ini, aku masih tidak percaya dengan apa yang aku dapat. Sebuah berkah Tuhan yang besarnya luar biasa. Para juara berhak mendapatkan hadiah berupa mentoring dan sejumlah uang tunai untuk mewujudkan mimpi. Mentoring akan dilakukan pada akhir bulan Oktober. Saya akan menuliskan semuanya setelah mentoring.

Sebuah kutipan dari pepatah Jawa yang selalu Bapak saya sampaikan ke saya, “sopo sing telaten bakal panen”. Selain doa ibu, itulah jimat saya.

2 Replies to “AKU DAN MAMA ANA: SETAHUN PERCUMBUANKU DENGANNYA”

  1. Membaca tulisanmu, rasanya seperti ikut merasakan setiap nafas dan langkah yang kau jalani. Kayaknya sejak zaman kuliah, dirimu emang condong ke seni deh. Keren banget ih. Susah dong sekarang kalau minta foto bareng? Hahaha. Terus semangat!

    1. Hei, Sil. Sorry baru sempet buka. hehe..
      Alhamdulillah diberi berkah Tuhan buat nemuin jalan hidup. Kamu ya kayake sangat bergeliat di dunia tulis menulis. Ajarono aku po’o, cek rajin update konten.

      Foto bareng? Hmmm.. Justru masih gampang, ngga tahu lagi tahun depan. hahaha..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *